Pada awalnya, sistem semacam barcode telah digunakan sejak abad ke-5 oleh suku Celtic di Irlandia. Mereka menggunakan abjad yang diukir pada kayu dan batu secara horizontal atau memotong suatu garis tegak. Pada tahun 1890, Punch Cards pertama kali digunakan untuk keperluan sensus penduduk di AS. Penggunaan Punch Cards pada sensus penduduk ini digunakan untuk otomatisasi data. Pada tahun 1932, Wallace Flint, seorang mahasiswa Harvard, di dalam thesisnya meramalkan pelanggan yang menggunakan Punch Cards dapat memilih produk, mempunyai Punch Cards yang dibaca pada kasir. Data transaksi tersimpan dan tersedia pada manajemen supermarket tersebut. Pada tahun 1948 Barcode untuk pertama kalinya ditemukan oleh Bernard Silver dan Joseph Woodland, mahasiswa Drexel Institute of Technology. Pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis. Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototype ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik. Pada Tahun 1973, ditetapkan UPC (Universal Product Code) sebagai standar Industri.
Cara Membaca Barcode:
- Barcode terdiri dari garis hitam dan putih. Ruang putih di antara garis-garis hitam adalah bagian dari kode
- Ada perbedaan ketebalan garis. Garis paling tipis = “1”, yang sedang = “2”, yang lebih tebal = “3”, dan yang paling tebal = “4”
- Setiap digit angka terbentuk dari urutan empat angka. 0=3211, 1=2221, 2=2122, 3=1411, 4=1132, 5=1231, 6=1114, 7=1312, 8=1213, 9=3112
Standar barcode retail di seluruh dunia, kecuali Amerika dan Kanada, adalah EAN (European Article Numbers)-13. EAN 13 standar terdiri dari 13 digit, yang maknanya adalah sebagai berikut:
1. Kode negara atau kode sistem: 3 digit pertama barcode menunjukkan negara di mana manufacturer terdaftar
2. Manufacturer Code: Ini adalah 5 digit kode yang diberikan pada manufacturer dari wewenang penomoran EAN
3. Product Code: 5 digit setelah manufacturer code. Nomor ini diberikan manufacturer untuk merepresentasikan suatu produk yang spesifik
4. Check Digit atau Checksum: Digit terakhir dari barcode, digunakan untuk verifikasi bahwa barcode telah dipindai dengan benar


