Monday, October 19, 2009

Sejarah Barcode dan Cara Membacanya

Pada awalnya, sistem semacam barcode telah digunakan sejak abad ke-5 oleh suku Celtic di Irlandia. Mereka menggunakan abjad yang diukir pada kayu dan batu secara horizontal atau memotong suatu garis tegak. Pada tahun 1890, Punch Cards pertama kali digunakan untuk keperluan sensus penduduk di AS. Penggunaan Punch Cards pada sensus penduduk ini digunakan untuk otomatisasi data. Pada tahun 1932, Wallace Flint, seorang mahasiswa Harvard, di dalam thesisnya meramalkan pelanggan yang menggunakan Punch Cards dapat memilih produk, mempunyai Punch Cards yang dibaca pada kasir. Data transaksi tersimpan dan tersedia pada manajemen supermarket tersebut. Pada tahun 1948 Barcode untuk pertama kalinya ditemukan oleh Bernard Silver dan Joseph Woodland, mahasiswa Drexel Institute of Technology. Pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis. Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototype ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik. Pada Tahun 1973, ditetapkan UPC (Universal Product Code) sebagai standar Industri.

Cara Membaca Barcode:

  • Barcode terdiri dari garis hitam dan putih. Ruang putih di antara garis-garis hitam adalah bagian dari kode
  • Ada perbedaan ketebalan garis. Garis paling tipis = “1”, yang sedang = “2”, yang lebih tebal = “3”, dan yang paling tebal = “4”
  • Setiap digit angka terbentuk dari urutan empat angka. 0=3211, 1=2221, 2=2122, 3=1411, 4=1132, 5=1231, 6=1114, 7=1312, 8=1213, 9=3112

Standar barcode retail di seluruh dunia, kecuali Amerika dan Kanada, adalah EAN (European Article Numbers)-13. EAN 13 standar terdiri dari 13 digit, yang maknanya adalah sebagai berikut:

1. Kode negara atau kode sistem: 3 digit pertama barcode menunjukkan negara di mana manufacturer terdaftar

2. Manufacturer Code: Ini adalah 5 digit kode yang diberikan pada manufacturer dari wewenang penomoran EAN

3. Product Code: 5 digit setelah manufacturer code. Nomor ini diberikan manufacturer untuk merepresentasikan suatu produk yang spesifik

4. Check Digit atau Checksum: Digit terakhir dari barcode, digunakan untuk verifikasi bahwa barcode telah dipindai dengan benar

Monday, October 12, 2009

Mitsubishi Terapkan Solusi IT Untuk Mengendalikan Aliran Informasi


Mitsubishi merupakan salah satu perusahaan automotif terkemuka di dunia. Perusahaan ini mendirikan pos terdepan di Polandia pada tahun 1995 untuk kegiatan impor dan distribusi mobil, suku cadang, dan aksesori. Pasar automotif merupakan salah satu pasar yang sangat kompetitif di Polandia. Sektor automotif sempat mengalami masa-masa ujian pada saat terjadi kemerosotan ekonomi yang menyebabkan berkurangnya jumlah permintaan terhadap mobil baru. Hal ini membuat para pelaku pasar harus memikul beban berupa penurunan angka penjualan yang mengenaskan. Kegiatan impor mobil dari lokasi produksinya di berbagai tempat seperti Belanda, Jepang, dan Thailand menyebabkan aliran informasi yang rumit. Oleh karena itu, Mitsubishi Polandia membutuhkan EDI (electronic data interchange) untuk menjalin komunikasi yang efisien. Mitsubishi membutuhkan solusi IT untuk mengendalikan dsitribusi, sistem pemesanan dan aliran informasi. Mitsubishi memilih IBS dan produk IBS Enterprisenya untuk menjalankan bisnisnya. IBS Enterprise memungkinkan Mitsubishi untuk mengontrol inventory dan memprediksi kebutuhan supply dengan baik. Dalam implementasinya, IBS menyesuaikan solusi software dengan kebutuhan bisnis Mitsubishi. Electronic Data Interchange serta modul pengendali jaminan dikembangkan secara cepat. Kini Mitsubishi dapat mengendalikan segala kegiatan bisnis melalui satu solusi software yang terintegrasi sehingga aliran informasi antar pelangan dan suppplier dapat dikontrol dengan lebih efisien. Setelah penerapan solusi IT tersebut, Mitsubishi dapat tetap meningkatkan pendapatan dan pangsa pasar sekalipun ekonomi melemah.


E-commerce Sebagai Model Bisnis Dell Computer


Dell didirikan oleh Michael Dell pada tahun 1984, saat ia menjadi mahasiswa di University of Texas, Austin. Dell memulai usahanya dengan menjual upgrade untuk IBM-Compatible PC, dan pada tahun 1985 mulai menjual PC dengan labelnya sendiri. Dell beroperasi dengan sistem pemesanan langsung di mana pemesanan dilakukan via telepon dan PC dibuat sesuai dengan spesifikasi yang diingkinkan pelanggan. Dell mendapatkan banyak manfaat dari sistem penjualan langsungnya dibandingkan dengan sistem penjualan tidak langsung yang diterapkan oleh para kompetitornya. Dell mulai menerapkan e-commerce pada tahun 1994 dengan membuat website pertamanya dan memindahkan segala kegiatan bisnisnya melalui internet. Website ini menyediakan fasilitas konfigurasi, pemesanan, pelayanan, dan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. E-commerce pada Dell dikembangkan oleh Dell Online Group yang membuat Dell.com dan Premier Pages. Penjualan secara online berada pada bagian pemasaran sedangkan pelayanan dan pendukung teknis termasuk ke dalam customer service. Melalui Dell.com, pelanggan Dell dapat membeli PC, perlengkapan, software, serta mendapatkan pendukung teknis dan pelayanan lainnya secara online. Dengan e-commerce, Dell dapat meminimalisasi biaya, menjaga kualitas peyanan, serta mengembangkan bisnisnya secara efektif dan efisien.